- Adik bayi yang berusia tujuh bulan tersebut dimandikan dengan air yang dicampur dengan bunga setaman. Istilah bunga setaman ini muncul karena bunga yang digunakan adalah bunga-bunya yang ada di taman si empunya upacara, seperti bunga mawar, melati, bugenvil, dan beberapa bunga rumput. Kebetulan, rumah saya tidak banyak bunga, jadi beberapa dari bunga itu epek (metik) dari pekarangan keluarga yang lain . Oh iya, tidak lupa, nenek-nenek yang memandikan juga membacakan doa yang saya belum jelas doa apa saja yang dibaca. Yang saya dengar adalah hewes hewes hewes. Nenek yang memandikan pun ndak sembarangan. Musti nenek yang sudah dipercaya memegang anak kecil, maksudnya yang sudah berpengalaman “sayang” kepada anak kecil atau ahli dibidang itu.
- Setelah adik bayi berusia tujuh bulan itu selesai dimandikan, adik bayi itu lalu didandani: dipupuri, diberi pakaian yang bagus, dan diberi mahkota dari janur. Dipupuri itu diberi bedak, tapi bukan sembarang bedak, melainkan bedak bayi yang wangiiii….lalu dipakaikan baju yang bagus (biasanya baju baru): kalau cewek pakai rok, kalau cowok pakai celana (oh iya, kalau cewek sudah ditindik telinganya). Dandan terakhir, dipakaikan mahkota dari janur. Mahkota ini ndak bernama, tapi bermakna: semoga adik bayi ini nanti bisa menjadi pemimpim seperti raja.Sesi mempercantik dan memperganteng diri selesai. Adik bayi yang sudah seperti bidadari dan malaikat itu kini digendong orang tua dan berfoto ria.
Selesai berfoto… beralih ke sebuah tempat yang cukup lapang. Ada dua benda di sana, tangga dari tebu yang dihias kertas sumbo (saya tidak begitu tahu namanya. Pokoknya kertas itu kalau dimasukkan ke air, airnya akan berwarna seperti kertas itu. Ya merah, hijau, kuning) dan kurungan yang juga berhias kertas sumbo plus ayam jago di dalamnya.Dibantu orang tuanya, khususnya sang bapak, adik bayi tersebut naik tangga. Tangga yang terbuat dari tebu itu memiliki tujuh anak tangga. Artinya: semoga adik bayi ini nanti dapat mencapai langit ketujuh a.k.a nirwana a.k.a surga. Kenapa musti tebu? Karena tebu itu manis sehingga jalan yang ditempuh untuk mencapai nirwana tidak pahit dan mulus. Kenapa musti dibantu orang tua? Karena adik bayinya belum bisa jalan sendiri . Pada bagian ini, orang-orang yang merupakan tetangga sekitar dan sanak sodara bertepuk tangan riuh dan memberi semangat. Apalagi waktu adik bayinya duduk di puncak tangga. Dia tersenyum lebar sehingga moment seperti ini adalahmoment paling pas untuk take a pic.....heheSetelah naik tangga sebagai lambang langkah menuju surga… saatnya masuk ke kurungan ayam. Lagi-lagi, adik bayi ini ndak sendirian. Dia musti ditemani oleh orang lain, bisa sodara bisa tetangga. Yang pasti sang penemani itu harus anak kecil,Maksimal usia anak kelas empat SD.Di dalam kurungan itu hanya ada ayam, tak ada benda lain. Itulah bedanya dengan upacara tujuh bulanan yang lain. Pitonan di desa saya ini tak ada acara memilih benda, yang ada adalah memegang benda. Dan benda itu adalah ayam jago. Ini sebagai lambang keberanian, karena manusia sekecil itu harus berani memegang ayam, juga makna dari ayam jago itu sendiri yang bagi masyarakat di desa saya sebagai lambang seorang pemberani.Sesi cita-cita surga dan keberanian selesai… saatnya sesi membagi-bagi rejeki. Ini adalah sesi yang paling-paling-paling ditunggu oleh para tetangga.# Sesi bagi-bagi rejeki ini ada dua bagian: yaitu selamatan yang dihadiri anak-anak dan selamatan yang dihadiri bapak-bapak.~ Selamatan anak-anak ini namanya kenduren lumpang(kenapa namanya kenduren lumpang? wahh…ini kesalahan saya! Saya lupa bertanya apa arti frasa ini. Padahal ini termasuk penting kan yaaaa…). Di kenduren lumpang ini, anak-anak yang sudah sejak awal melihat proses pitonan adik bayi, mulai dari mandi hingga masuk kurungan ayam jago, diberi makanan dalam pincukan. Isi makanannya: nasi, sayur pepaya, lalapan tumpang (parutan kelapa, kecambah, dan kangkung), sayur tahu, telor, dan ayam. Oh iya, sebelum diberi makanan ini, ada tradisi yang sangat disukai anak kecil… yaitu sebaran duit (menyebar uang). Nenek atau bibi dari adik bayi itu menyebar uang receh yang diletakkan di besek (tumbu, dulunya tempat mencuci beras) yang berisi beras yang diberi pewarna kuning, bunga, dan uang receh. Dulu waktu saya kecil, uang recehnya berupa pecahan 25 hingga seratus rupiah, tapi sekarang berkembang menjadi lima ratus hingga seribu rupiah. Juga ada kompetisi: siapa yang paling banyak meraup uang, dialah pemenangnya. Uniknya, tak ada hadiah atau imbalan atau sesuatu untuk diberikan kepada pemenang ini. Bagi anak-anak itu, kebanggaan saja sudah cukup.Selesai kenduren lumpang, anak-anak itu pulang: makan dengan lahap di rumah dan membelanjakan uang hasil jerih payahnya). Sisa pitonan dibersihkan karena selamatan gedhe akan dilangsungkan.~Mereka adalah bapak-bapak sekitar rumah sang empunya pitonan. Selamatan seperti kenduri biasa: berisi doa agar adik bayi yang dipitoni bisa sukses dunia akhirat. Sesuatu yang akan terus menemani ke mana pun adik bayi itu pergi, tumbuh, dewasa, dan melangkah jauh: doa dari mereka yang pagi itu merasa sangat bersyukur mendapat sarapan gratis. Terlepas dari itu, masyarakat di desa saya masih memiliki kadar kebersamaan tinggi: kesenanganmu adalah kesenangan kami)...
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Juli 2013
pitonan
Pernikahan adat jawa
Nontoni
Bagian pertama dari rangkaian prosesi pernikahan adalah Nontoni. Proses nontoni ini dilakukan oleh pihak keluarga pria. Tujuan dari nontoni adalah untuk mengetahui status gadis yang akan dijodohkan dengan anaknya, apakah masih legan (sendiri) atau telah memiliki pilihan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar jangan sampai terjadi benturan dengan pihak lain yang juga menghendaki si gadis menjadi menantunya. Bila dalam nontoni terdapat kecocokan dan juga mendapat ‘lampu hijau’ dari pihak gadis, tahap berikutnya akan dilaksanakan panembung.
Panembung
Panembung dapat diartikan sebagai melamar. Dalam melamar seorang gadis yang akan dijadikan jodoh, biasanya dilakukan sendiri oleh pihak pria disertai keluarga seperlunya. Tetapi bagian ini bisa juga diwakilkan kepada sesepuh atau orang yang dipercaya disertai beberapa orang teman sebagai saksi. Setelah pihak pria menyampaikan maksud kedatangannya, orangtua gadis tidak langsung menjawab boleh atau tidak putrinya diperistri. Untuk menjaga tata trapsila, jawaban yang disampaikan kepada keluarga laki-laki akan ditanyakan dahulu kepada sang putrid. Untuk itu pihak pria dimohon bersabar. Jawaban ini tentu saja dimaksudkan agat tidak mendahului kehendak yang akan menjalankan, yaitu sang gadis, juga agar taj menurunkan wibawa pihak keluarganya. Biasanya mereka akan meminta waktu untuk memberikan jawaban sekitar sepasar atau 5 hari.
Paningset
Apabila sang gadis bersedia dijodohkan dengan pria yang melamarnya, maka jawaban akan disampaikan kepada pihak keluarga pria, sekaligus memberikan perkiraan mengenai proses selanjutnya. Hal ini dimaksudkan agar kedua keluarga bisa menentukan hari baik untuk mewujudkan rencana pernikahan. Pada saat itu, orangtua pihak pria akan membuat ikatan pembicaraan lamaran dengan pasrah paningset (sarana pengikat perjodohan). Paningset diserahkan oleh pihak calon pengantin pria kepada pihak calon pengantin wanita paling lambat lima hari sebelum pernikahan. Namun belakangan, dengan alasan kepraktisan, acara srah-srahan paningset sering digabungkan bersamaan dengan upacara midodareni.
Ubarampe (perlengkapan) paningset yang diserahkan orang tua pihak pria keluarga perempuan berupa:
* Paningset utama
* Abon – abon paningset
* Pengiring paningset
* Sesaji Pelengkap paningset
Paningset utama
1) KAIN BATHIK TRUNTUM
Berupa latar hitam dengan tebaran bunga-bunga tanjung yang melambangkan bintang pada malam hari. Maknanya bahwa kehidupan manusia tidak akan lepas dari dua sisi kehidupan, seperti terang-gelap, suka-duka, kaya-miskin, dan seterusnya. Apabila sedan mendapat pepeteng (cobaan), kiranya segera mendapat pepadhang, bagai bintang dimalam hari.
2) CINCIN
Cincin dua buah berbentuk ‘lus seser’ yang tidak ada ujung pangkalnya. Diibaratkan cinta kasih kedua insan ini akan selalu mengikat tiada berakhir selamanya, selain hanya dalam kuasa Tuhan.
3) KASEMEKAN (BRA)
Kasemakan adalah penutup dada. Ubarampe (perangkat) ini menunjukkan makna sebagai penutup ‘teleng tedhane jabang bayi’. Yang artinya payudara. Inilah symbol perilaku kesusilaan, maksudnya jalan yang akan ditempuh dalam menjodohkan anak adalah dengan tata susila.
4) STAGEN
Stagen adalah kain tenunan selebar 12 cm dan panjangnya 4 hingga 4,5 m dari benang lawe besar, untuk mengikat saat mengenakan kain bathik. Makna stagen sebagai paningset dalam tradisi adalah mengikat kesepakatan yang telah dicapai dalam menjodohkan anak. Stagen mempunyai arti paningset yang juga diambil maknanya sebagai ‘bebakalaning sandhang’ (wujud benang lawe) atau cikal bahan sandang yang diharapkan dalam perkawinannya nanti semoga kuat dalam ‘nandhang saliring lelampahan’ )kuat dalam menjalani segala kondisi dalam berumah tangga).
5) KAIN SINDUR
Kain sindur adalah sejenis kain ‘rimong’ atau selendang yang berwarna merah dan putih. Warna merah melambangkan wanita dan putih melambangkan pria yang diharapkan bisa mneytau melanjutkan keturunan.
Abon – abon paningset
1) JERUK GULUNG ATAU JERUK BALI
Merupakan perlambang dalam berbesanan dan juga bagi pengantin. Maksudnya adalah mereka sudah siap mejalankan kewajiban sesuai dengan kedudukannya dan sudah dipikirkan secara mendalam.
2) NASI GOLONG
Nasi yang dibentuk menjadi bulatan. Yang diperlukan adalah sebanyak dua buah. Nasi golong menggambarkan tekad yang sudah ‘golong-gilik’ dalam menjodohkan anak dengan penuh rasa tanggung jawab.
3) TEBU WULUNG
Tebu wulung adalah tebu yang berwarna merah tua. Tebu itu
melambangkan sumber rasa manis. Hal ini menjadi harapan cita-cita bahwa di dalam kehidupan berkeluarga nanti akan selalu mendapatkan kehidupan yang serba manis.
4) PISANG AYU DAN SURUH AYU
Ubarampe ini berupa pisang raja setangkep. Pisang raja dipilih karena raja adalah seorang yang berkedudukan tinggi dan luhur. Harapan nya, pasangan ini kelak bisa mencapai kedudukan yang tinggi. Sedangkan makna suruh ayu adalah kelak kerukunan dan kebersamaan akan selalu ada dalam mengarungi kehidupan berkeluarga. Hal ini tercermin dari sifat daun suruh, yang meski permukaan atas dan bawahnya berbeda namun jika digigit rasanaya akan sama.
Pangiring paningset
Pengiring ini merupakan kelengkapan sari ubarampe yang baku. Bentuk dari pangiring paningset ini adalah hasil bumi maupun barang kebutuhan wanita.
Sesaji pelengkap paningset
1) Sepasang angsa atau ayam hidup, agar jodoh kedua mempelai abadi.
2) Dua buah kelapa gading atau kelapa cengkir (muda), sebagai perlambang ketajaman pikiran.
3) Dua batang tebu wulung, sebagai simbol keteguhan hati.
4) Bahan-bahan jamu, misalnya : jahe. Kunyit, kencur, empon-empon, sebagai simbol kesehatan bagi kedua mempelai.
PELAKSANAAN PERKAWINAN
Pelaksanaan pernikahan di Solo mempunyai tatanan yang memuat pokok-pokok tradisi Jawa sebagai berikut :
1. SOWAN LUHUR
Maksudnya adalah meminta doa restu dari para sesepuh dan piyagung serta melakukan ziarah kubur ke tempat leluhurnya.
2. WILUJENGAN
Merupakan ritual sebagai wujud permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya dalam melaksanakan hajat diberi keselamatan dan dijauhkan dari segala halangan. Dalam wilujengan ini memakai sarat berupa makanan dengan lauk-pauk, seperti ‘sekul wuduk’ dan ‘sekul golong’ beserta ingkung (ayam utuh). Dalam wilujengan ini semua sarat ubarampe enak dimakan oleh manusia.
3. PASANG TARUB
Merupakan tradisi membuat ‘bleketepe’ atau anyaman daun kelapa untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manton. Tatacara ini mengambil ‘wewarah’ atau ajaran Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram. Saat mempunyai hajat menikahkan anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Hal itu dilakukan dkarena rumah Ki Ageng uang kecil tidak dapat memuat semua tamu, sehingga tamu yang diluar diteduhi dengan ‘payon’ itu ruang yang dipergunakan untuk para tamu Agung yang luas dan dapat menampung seluruh tamu. Kemudian payon dari daun kelapa itu disebut ‘tarub’, berasal dari nama orang yang pertama membuatnya. Tatacara memasang tarub adalah bapak naik tangga sedangkan ibu memegangi tangga sambil membantu memberikan ‘bleketepe’ (anyaman daun kelapa). Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluarga.
4. PASANG TUWUHAN
Tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak yang dijodohkan dapat memperoleh keturunan, untuk melangsungkan sejarah keluarga.
Tuwuhan terdiri dari :
A. Pohon pisang raja yang buahnya sudah masuk
Maksud dipilih pisang yang sudah masak adalah diharapkan pasangan yang akan menikah telah mempunyai pemikiran dewasa atau telah masak. Sedangkan pisang raja mempunyai makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.
B. Tebu wulung
Tebu wulung berwarna merah tua sebagai gambaran tuk-ing memanis atau sumber manis. Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua. Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu bertindak dengan ‘kewicaksanaan’ atau kebijakan.
C. Cengkir gadhing
Merupakan symbol dari kandungan tempat si jabang bayi atau lambing keturunan.
D. Daun randu dari pari sewuli
Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan. Sehinggahal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.
E. Godhong apa-apa (bermacam-macam dedaunan)
Seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan agar terbebas dari segala halangan.
5. SIRAMAN DAN SADE DAWET (DODOL DAWET)
Peralatan yang dipaka untuk siraman adalah sekar manca warna yang dimasukkan ke dalam jembangan, kelapa yang dibelah untuk gayung mandi, serta jajan pasar, dan tumpeng robyong. Air yang dipergunakan dalam siraman ini diambil dari tujuh sumber air, atau air tempuran. Orang yang menyiram berjumlah 9 orang sesepuh termasuk ayah. Jumlah sembilan tersebut menurut budaya Keraton Surakarta untuk mengenang keluhuran Wali Sanga, yang bermakna manunggalnya Jawa dan Islam. Selain itu angka sembilan juga bermakna ‘babakan hawa sanga’ yang harus dikendalikan.
Pelaksanaan tradisi ini
Masing-masing sesepuh melaksanakan siraman sebanyak tiga kali dengan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa yang diakhiri siraman oleh ayah mempelai wanita. Setelah itu bapak mempelai wanita memecah klenthing atau kendhi, sambil berucap ‘ora mecah kendhi nanging mecah pamore anakku’.
Seusaii siraman calon pengantin wanita dibopong (digendong) oleh ayah ibu menuju kamar pengantin. Selanjutnya sang Ayah menggunting tigas rikmo (sebagian rambut di tengkuk) calon pengantin wanita. Potongan rambut tersebut diberikan kepada sang ibu untuk disimpan ke dalam cepuk (tempat perhiasan), lalu ditanam di halaman rumah. Upacara ini bermakna membuang hal-hal kotor dari calon pengantin wanita. Kemudian rambut calon pengantin wanita. Kemudian rambut calon pengantin wanita dikeringkan sambil diharumi asap ratus, untuk selanjutnya ‘dihalubi-halubi’ atau dibuat cengkorong paes. Selanjutnya rambut dirias dengan ukel konde tanpa perhiasan, dan tanpa bunga.
Dodol Dawet
Pada saat calon pengantin dibuat cengkorong paes itu, kedua orangtua menjalankan tatacara ‘dodol dawet’ (menjual dawet). Disamping dawet itu sebagai hidangan, juga diambil makna dari cendol yang berbentuk bundar merupakan lambing kebulatan kehendak orangtua untuk menjodohkan anak.
Bagi orang yang akan membeli dawet tersebut harus membayar dengan ‘kreweng’ (pecahan genting) bukan dengan uang. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi. Yang melayani pembeli adalah ibu, sedangkan yang menerima pembayaran adalah bapak. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri , harus saling membantu.
6. SENGKERAN
Setelah calon pengantin wanita ‘dihaluh-halubi’ atau dibuat cengkorong paes lalu ‘disengker’ atau dipingit. Artinya tidak boleh keluar dari halaman rumah.
Hal ini untuk menjaga keselamatannya. Pemingitan ini dulu dilakukan selama seminggu, atau minimal 3 hari. Yang mana dalam masa ini, calon pengantin putri setiap malam dilulur dan mendapat banyak petuah mengenai bagaimana menjadi seorang istri dan ibu dalam menjalani kehidupan dan mendampingi suami, serta mengatur rumah tangga.
7. MIDODARENI ATAU MAJEMUKAN
Malam menjelang dilaksanakan ijab dan panggih disebur malam midodareni. Midodareni berasal dari kata widodari. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mepercantik pengantin wanita.
Prosesi yang dilaksanakan pada malam midodareni
A. Jonggolan
Datangnya calon pengantin ke tempat calon mertua. ‘Njonggol’ diartikan sebagai menampakkan diri. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan sehat dan selamat, dan hatinya telah mantap untuk menikahi putri mereka. Selama berada di rumah calon pengantin wanita, calon pengantin pria menunggu di beranda dan hanya disuguhi air putih.
B. Tantingan
Kedua orangtua mendatangi calon pengantin wanita di dalam kamar, menanyakan kemantapan hatinya untuk berumah tangga. Maka calon pengantin wanita akan menyatakan ia ikhlas menyerahkan sepenuhnya kepada orangtua, tetapi mengajukan permintaan kepada sang ayah untuk mencarikan ‘kembar mayang’ sebagai isyarat perkawinan.
C. Turunnya Kembar Mayang
Turunnya kembar mayang merupakan saat sepasang kembar mayang dibuat. Kembar mayang ini milik para dewa yang menjadi persyaratan, yaitu sebagai sarana calon pengantin perempuan berumah tangga. Dalam kepercayaan Jawa, kembar mayang hanya dipinjam dari dewa, sehingga apabila sudah selesai dikembalikan lagi ke bumi atau dilabuh melalui air. Dua kembar mayang tersebut dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Dewandaru mempunyai arti wahyu pengayoman. Maknanya adalah agar pengantin pria dapat memberikan pengayoman lahir dan batin kepada keluarganya. Sedangkan Kalpandaru, berasal dari kata kalpa yang artinya langgeng dan daru yang berarti wahyu. Maksudnya adalah wahyu kelanggengan, yaitu agar kehidupan rumah tangga dapat abadi selamanya.
D. Wilujengan Majemukan
Wilujengan Majemukan adalah silahturahmi antara keluarga calon pengantin pria dan wanita yang bermakna kerelaan kedua pihak untuk saling berbesanan. Selanjutnya ibu calon pengantin wanita menyerahkan angsul-angsul atau oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang kepada ibu calon pengantin pria. Sesaat sebelum rombongan pulang, orang tua calon pengantin wanita memberikan kepada calon pengantin pria.
8. IJAB PANIKAH
Pelaksanaan ijab panikah ini mengacu pada agama yang dianut oleh pengantin. Dalam tata cara Keraton, saat ijab panikah dilaksanakan oleh penghulu, tempat duduk penghulu maupun mempelai diatur sebagai berikut :
· Pengantin laki-laki menghadap barat
· Naib di sebelah barat menghadap timur
· Wali menghadap ke selatan, dan para saksi bisa menyesuaikan
Bagian pertama dari rangkaian prosesi pernikahan adalah Nontoni. Proses nontoni ini dilakukan oleh pihak keluarga pria. Tujuan dari nontoni adalah untuk mengetahui status gadis yang akan dijodohkan dengan anaknya, apakah masih legan (sendiri) atau telah memiliki pilihan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar jangan sampai terjadi benturan dengan pihak lain yang juga menghendaki si gadis menjadi menantunya. Bila dalam nontoni terdapat kecocokan dan juga mendapat ‘lampu hijau’ dari pihak gadis, tahap berikutnya akan dilaksanakan panembung.
Panembung
Panembung dapat diartikan sebagai melamar. Dalam melamar seorang gadis yang akan dijadikan jodoh, biasanya dilakukan sendiri oleh pihak pria disertai keluarga seperlunya. Tetapi bagian ini bisa juga diwakilkan kepada sesepuh atau orang yang dipercaya disertai beberapa orang teman sebagai saksi. Setelah pihak pria menyampaikan maksud kedatangannya, orangtua gadis tidak langsung menjawab boleh atau tidak putrinya diperistri. Untuk menjaga tata trapsila, jawaban yang disampaikan kepada keluarga laki-laki akan ditanyakan dahulu kepada sang putrid. Untuk itu pihak pria dimohon bersabar. Jawaban ini tentu saja dimaksudkan agat tidak mendahului kehendak yang akan menjalankan, yaitu sang gadis, juga agar taj menurunkan wibawa pihak keluarganya. Biasanya mereka akan meminta waktu untuk memberikan jawaban sekitar sepasar atau 5 hari.
Paningset
Apabila sang gadis bersedia dijodohkan dengan pria yang melamarnya, maka jawaban akan disampaikan kepada pihak keluarga pria, sekaligus memberikan perkiraan mengenai proses selanjutnya. Hal ini dimaksudkan agar kedua keluarga bisa menentukan hari baik untuk mewujudkan rencana pernikahan. Pada saat itu, orangtua pihak pria akan membuat ikatan pembicaraan lamaran dengan pasrah paningset (sarana pengikat perjodohan). Paningset diserahkan oleh pihak calon pengantin pria kepada pihak calon pengantin wanita paling lambat lima hari sebelum pernikahan. Namun belakangan, dengan alasan kepraktisan, acara srah-srahan paningset sering digabungkan bersamaan dengan upacara midodareni.
Ubarampe (perlengkapan) paningset yang diserahkan orang tua pihak pria keluarga perempuan berupa:
* Paningset utama
* Abon – abon paningset
* Pengiring paningset
* Sesaji Pelengkap paningset
Paningset utama
1) KAIN BATHIK TRUNTUM
Berupa latar hitam dengan tebaran bunga-bunga tanjung yang melambangkan bintang pada malam hari. Maknanya bahwa kehidupan manusia tidak akan lepas dari dua sisi kehidupan, seperti terang-gelap, suka-duka, kaya-miskin, dan seterusnya. Apabila sedan mendapat pepeteng (cobaan), kiranya segera mendapat pepadhang, bagai bintang dimalam hari.
2) CINCIN
Cincin dua buah berbentuk ‘lus seser’ yang tidak ada ujung pangkalnya. Diibaratkan cinta kasih kedua insan ini akan selalu mengikat tiada berakhir selamanya, selain hanya dalam kuasa Tuhan.
3) KASEMEKAN (BRA)
Kasemakan adalah penutup dada. Ubarampe (perangkat) ini menunjukkan makna sebagai penutup ‘teleng tedhane jabang bayi’. Yang artinya payudara. Inilah symbol perilaku kesusilaan, maksudnya jalan yang akan ditempuh dalam menjodohkan anak adalah dengan tata susila.
4) STAGEN
Stagen adalah kain tenunan selebar 12 cm dan panjangnya 4 hingga 4,5 m dari benang lawe besar, untuk mengikat saat mengenakan kain bathik. Makna stagen sebagai paningset dalam tradisi adalah mengikat kesepakatan yang telah dicapai dalam menjodohkan anak. Stagen mempunyai arti paningset yang juga diambil maknanya sebagai ‘bebakalaning sandhang’ (wujud benang lawe) atau cikal bahan sandang yang diharapkan dalam perkawinannya nanti semoga kuat dalam ‘nandhang saliring lelampahan’ )kuat dalam menjalani segala kondisi dalam berumah tangga).
5) KAIN SINDUR
Kain sindur adalah sejenis kain ‘rimong’ atau selendang yang berwarna merah dan putih. Warna merah melambangkan wanita dan putih melambangkan pria yang diharapkan bisa mneytau melanjutkan keturunan.
Abon – abon paningset
1) JERUK GULUNG ATAU JERUK BALI
Merupakan perlambang dalam berbesanan dan juga bagi pengantin. Maksudnya adalah mereka sudah siap mejalankan kewajiban sesuai dengan kedudukannya dan sudah dipikirkan secara mendalam.
2) NASI GOLONG
Nasi yang dibentuk menjadi bulatan. Yang diperlukan adalah sebanyak dua buah. Nasi golong menggambarkan tekad yang sudah ‘golong-gilik’ dalam menjodohkan anak dengan penuh rasa tanggung jawab.
3) TEBU WULUNG
Tebu wulung adalah tebu yang berwarna merah tua. Tebu itu
melambangkan sumber rasa manis. Hal ini menjadi harapan cita-cita bahwa di dalam kehidupan berkeluarga nanti akan selalu mendapatkan kehidupan yang serba manis.
4) PISANG AYU DAN SURUH AYU
Ubarampe ini berupa pisang raja setangkep. Pisang raja dipilih karena raja adalah seorang yang berkedudukan tinggi dan luhur. Harapan nya, pasangan ini kelak bisa mencapai kedudukan yang tinggi. Sedangkan makna suruh ayu adalah kelak kerukunan dan kebersamaan akan selalu ada dalam mengarungi kehidupan berkeluarga. Hal ini tercermin dari sifat daun suruh, yang meski permukaan atas dan bawahnya berbeda namun jika digigit rasanaya akan sama.
Pangiring paningset
Pengiring ini merupakan kelengkapan sari ubarampe yang baku. Bentuk dari pangiring paningset ini adalah hasil bumi maupun barang kebutuhan wanita.
Sesaji pelengkap paningset
1) Sepasang angsa atau ayam hidup, agar jodoh kedua mempelai abadi.
2) Dua buah kelapa gading atau kelapa cengkir (muda), sebagai perlambang ketajaman pikiran.
3) Dua batang tebu wulung, sebagai simbol keteguhan hati.
4) Bahan-bahan jamu, misalnya : jahe. Kunyit, kencur, empon-empon, sebagai simbol kesehatan bagi kedua mempelai.
PELAKSANAAN PERKAWINAN
Pelaksanaan pernikahan di Solo mempunyai tatanan yang memuat pokok-pokok tradisi Jawa sebagai berikut :
1. SOWAN LUHUR
Maksudnya adalah meminta doa restu dari para sesepuh dan piyagung serta melakukan ziarah kubur ke tempat leluhurnya.
2. WILUJENGAN
Merupakan ritual sebagai wujud permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya dalam melaksanakan hajat diberi keselamatan dan dijauhkan dari segala halangan. Dalam wilujengan ini memakai sarat berupa makanan dengan lauk-pauk, seperti ‘sekul wuduk’ dan ‘sekul golong’ beserta ingkung (ayam utuh). Dalam wilujengan ini semua sarat ubarampe enak dimakan oleh manusia.
3. PASANG TARUB
Merupakan tradisi membuat ‘bleketepe’ atau anyaman daun kelapa untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manton. Tatacara ini mengambil ‘wewarah’ atau ajaran Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram. Saat mempunyai hajat menikahkan anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Hal itu dilakukan dkarena rumah Ki Ageng uang kecil tidak dapat memuat semua tamu, sehingga tamu yang diluar diteduhi dengan ‘payon’ itu ruang yang dipergunakan untuk para tamu Agung yang luas dan dapat menampung seluruh tamu. Kemudian payon dari daun kelapa itu disebut ‘tarub’, berasal dari nama orang yang pertama membuatnya. Tatacara memasang tarub adalah bapak naik tangga sedangkan ibu memegangi tangga sambil membantu memberikan ‘bleketepe’ (anyaman daun kelapa). Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluarga.
4. PASANG TUWUHAN
Tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak yang dijodohkan dapat memperoleh keturunan, untuk melangsungkan sejarah keluarga.
Tuwuhan terdiri dari :
A. Pohon pisang raja yang buahnya sudah masuk
Maksud dipilih pisang yang sudah masak adalah diharapkan pasangan yang akan menikah telah mempunyai pemikiran dewasa atau telah masak. Sedangkan pisang raja mempunyai makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.
B. Tebu wulung
Tebu wulung berwarna merah tua sebagai gambaran tuk-ing memanis atau sumber manis. Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua. Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu bertindak dengan ‘kewicaksanaan’ atau kebijakan.
C. Cengkir gadhing
Merupakan symbol dari kandungan tempat si jabang bayi atau lambing keturunan.
D. Daun randu dari pari sewuli
Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan. Sehinggahal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.
E. Godhong apa-apa (bermacam-macam dedaunan)
Seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan agar terbebas dari segala halangan.
5. SIRAMAN DAN SADE DAWET (DODOL DAWET)
Peralatan yang dipaka untuk siraman adalah sekar manca warna yang dimasukkan ke dalam jembangan, kelapa yang dibelah untuk gayung mandi, serta jajan pasar, dan tumpeng robyong. Air yang dipergunakan dalam siraman ini diambil dari tujuh sumber air, atau air tempuran. Orang yang menyiram berjumlah 9 orang sesepuh termasuk ayah. Jumlah sembilan tersebut menurut budaya Keraton Surakarta untuk mengenang keluhuran Wali Sanga, yang bermakna manunggalnya Jawa dan Islam. Selain itu angka sembilan juga bermakna ‘babakan hawa sanga’ yang harus dikendalikan.
Pelaksanaan tradisi ini
Masing-masing sesepuh melaksanakan siraman sebanyak tiga kali dengan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa yang diakhiri siraman oleh ayah mempelai wanita. Setelah itu bapak mempelai wanita memecah klenthing atau kendhi, sambil berucap ‘ora mecah kendhi nanging mecah pamore anakku’.
Seusaii siraman calon pengantin wanita dibopong (digendong) oleh ayah ibu menuju kamar pengantin. Selanjutnya sang Ayah menggunting tigas rikmo (sebagian rambut di tengkuk) calon pengantin wanita. Potongan rambut tersebut diberikan kepada sang ibu untuk disimpan ke dalam cepuk (tempat perhiasan), lalu ditanam di halaman rumah. Upacara ini bermakna membuang hal-hal kotor dari calon pengantin wanita. Kemudian rambut calon pengantin wanita. Kemudian rambut calon pengantin wanita dikeringkan sambil diharumi asap ratus, untuk selanjutnya ‘dihalubi-halubi’ atau dibuat cengkorong paes. Selanjutnya rambut dirias dengan ukel konde tanpa perhiasan, dan tanpa bunga.
Dodol Dawet
Pada saat calon pengantin dibuat cengkorong paes itu, kedua orangtua menjalankan tatacara ‘dodol dawet’ (menjual dawet). Disamping dawet itu sebagai hidangan, juga diambil makna dari cendol yang berbentuk bundar merupakan lambing kebulatan kehendak orangtua untuk menjodohkan anak.
Bagi orang yang akan membeli dawet tersebut harus membayar dengan ‘kreweng’ (pecahan genting) bukan dengan uang. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi. Yang melayani pembeli adalah ibu, sedangkan yang menerima pembayaran adalah bapak. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri , harus saling membantu.
6. SENGKERAN
Setelah calon pengantin wanita ‘dihaluh-halubi’ atau dibuat cengkorong paes lalu ‘disengker’ atau dipingit. Artinya tidak boleh keluar dari halaman rumah.
Hal ini untuk menjaga keselamatannya. Pemingitan ini dulu dilakukan selama seminggu, atau minimal 3 hari. Yang mana dalam masa ini, calon pengantin putri setiap malam dilulur dan mendapat banyak petuah mengenai bagaimana menjadi seorang istri dan ibu dalam menjalani kehidupan dan mendampingi suami, serta mengatur rumah tangga.
7. MIDODARENI ATAU MAJEMUKAN
Malam menjelang dilaksanakan ijab dan panggih disebur malam midodareni. Midodareni berasal dari kata widodari. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mepercantik pengantin wanita.
Prosesi yang dilaksanakan pada malam midodareni
A. Jonggolan
Datangnya calon pengantin ke tempat calon mertua. ‘Njonggol’ diartikan sebagai menampakkan diri. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan sehat dan selamat, dan hatinya telah mantap untuk menikahi putri mereka. Selama berada di rumah calon pengantin wanita, calon pengantin pria menunggu di beranda dan hanya disuguhi air putih.
B. Tantingan
Kedua orangtua mendatangi calon pengantin wanita di dalam kamar, menanyakan kemantapan hatinya untuk berumah tangga. Maka calon pengantin wanita akan menyatakan ia ikhlas menyerahkan sepenuhnya kepada orangtua, tetapi mengajukan permintaan kepada sang ayah untuk mencarikan ‘kembar mayang’ sebagai isyarat perkawinan.
C. Turunnya Kembar Mayang
Turunnya kembar mayang merupakan saat sepasang kembar mayang dibuat. Kembar mayang ini milik para dewa yang menjadi persyaratan, yaitu sebagai sarana calon pengantin perempuan berumah tangga. Dalam kepercayaan Jawa, kembar mayang hanya dipinjam dari dewa, sehingga apabila sudah selesai dikembalikan lagi ke bumi atau dilabuh melalui air. Dua kembar mayang tersebut dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Dewandaru mempunyai arti wahyu pengayoman. Maknanya adalah agar pengantin pria dapat memberikan pengayoman lahir dan batin kepada keluarganya. Sedangkan Kalpandaru, berasal dari kata kalpa yang artinya langgeng dan daru yang berarti wahyu. Maksudnya adalah wahyu kelanggengan, yaitu agar kehidupan rumah tangga dapat abadi selamanya.
D. Wilujengan Majemukan
Wilujengan Majemukan adalah silahturahmi antara keluarga calon pengantin pria dan wanita yang bermakna kerelaan kedua pihak untuk saling berbesanan. Selanjutnya ibu calon pengantin wanita menyerahkan angsul-angsul atau oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang kepada ibu calon pengantin pria. Sesaat sebelum rombongan pulang, orang tua calon pengantin wanita memberikan kepada calon pengantin pria.
8. IJAB PANIKAH
Pelaksanaan ijab panikah ini mengacu pada agama yang dianut oleh pengantin. Dalam tata cara Keraton, saat ijab panikah dilaksanakan oleh penghulu, tempat duduk penghulu maupun mempelai diatur sebagai berikut :
· Pengantin laki-laki menghadap barat
· Naib di sebelah barat menghadap timur
· Wali menghadap ke selatan, dan para saksi bisa menyesuaikan
Kamis, 13 Juni 2013
Sholat Jama' dan Qoshor
Salat Jamak
Menurut bahasa, jamak artinya mengumpulkan, menurut istilah, salat jamak adalah mengumpulkan dua salat fardu dalam satu waktu yang dilakukan secara berurutan. Misalnya, salat Zuhur dikerjakan dengan salat Asar.
Jadi, salat Jamak merupakan keinginan yang diperbolehkan dikarenakan sebab-sebab tertentu.
Berbeda dengan menjamak salat Zuhur dan Asar di Arafah dan menjamak salat Magrib dengan Isya ketika bermalam di Muzdalifah. Menjamak di kedua tempat tersebut adalah ketetapan baku yang hukumnya wajib karena tidak memiliki pilihan lain
Hal itu didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. mengerjakan salat Zuhur dan salat Asar di Arafah dengan satu azan dan dua ikamah.
Hukum melaksanakan salat Jamak adalah mubah (boleh) bagi orang yang dalam perjalanan dan syarat-syaratnya mencukupi.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Dari Muaz bahwasanya Nabi Muhammad saw. dalam Perang Tabuk apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan salat Zuhur sehingga beliau kumpulkan pada salat Asar (beliau salat Zuhur dan Asar pada waktu Asar). Jika beliau berangkat sesudah tergelincir matahari beliau melaksanakan salat Zuhur dan salat Asar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Jika beliau berangkat sebelum Magrib, beliau mengakhirkan salat Maghrib sehingga beliau mengerjakan salat Magrib beserta Isya, dan jika beliau berangkat sesudah waktu Magrib, beliau mengerjakan salat Isya beserta Magrib. (H.R.Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmizi)
Salat Qasar
Qasar artinya meringkas atau memendekkan. Salat Qasar ialah melaksanakan salat fardu dengan cara meringkas jumlah rakaatnya dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Salat yang dapat diqasar adalah salat Zuhur, Asar, dan Isya. Sementara itu, salat Magrib tetap tiga rakaat dan salat Subuh juga dua rakaat. Disyariatkannya mengasar salat termasuk rukhsah (keringanan). Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt. berikut.
Artinya:
101. Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qa¡ar salat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(Q.S. an-Nisa’101)
Pengertian Salat Jamak Qasar
Salat Jamak Qasar adalah dua salat fardu yang dikerjakan secara berurutan dalam satu waktu dan jumlah rakaatnya diringkas. Apabila dikerjakan pada waktu salat yang awal, disebut salat Jamak Qasar Takdim. Apabila dikerjakan pada waktu salat yang akhir, disebut salat Jamak Qasar Takhir.
Macam-Macam Salat Jamak
Salat Jamak dibagi menjadi dua macam, yaitu salat Jamak Takdim dan salat Jamak Takhir. Salat Jamak Takdim adalah mengerjakan salat dengan menjamaknya pada waktu salat yang awal. Contoh, salat Zuhur dan dan salat Asar dijamak pada awal waktu salat Zuhur atau mengerjakan salat Magrib dan salat Isya pada awal waktu salat Isya.
Salat Jamak Takhir adalah mengerjakan salat dengan menjamaknya pada waktu salat yang akhir. Contoh, salat Zuhur dan salat Asar dikerjakan pada waktu salat Asar atau salat Magrib dan salat Isya dikerjakan pada waktu salat Isya.
Salat yang boleh dijamak dan diqasar
Menurut sunah Rasulullah saw., salat yang boleh dijamak ialah salat Zuhur dengan salat Asar dan salat Magrib dengan salat Isya. Salat Subuh tidak boleh dijamak sehingga salat Subuh harus dilaksanakan secara terpisah dari salat yang lain. Jadi, salat Subuh tetap dilaksanakan pada waktunya. Adapun salat yang boleh diqasar adalah salat yang jumlah rakaatnya empat. Dengan demikian, salat Magrib dan subuh tidak boleh diqasar. Salat Magrib dan subuh tetap dilakukan tiga rakaat dan dua rakaat.
Syarat Salat Jamak dan Qasar
Setiap orang Islam diperbolehkan menjamak salat apabila terpenuhi syarat sebagai berikut.
1. Sebagai musafir atau sedang bepergian
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Dari Muaz bahwasanya Nabi Muhammad saw. dalam Perang Tabuk apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan salat Zuhur sehingga beliau kumpulkan pada salat Asar (beliau salat Zuhur dan Asar pada waktu Asar). Jika beliau berangkat sesudah tergelincir matahari beliau melaksanakan salat Zuhur dan salat Asar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Jika beliau berangkat sebelum Magrib, beliau mengakhirkan salat Maghrib sehingga beliau mengerjakan salat Magrib beserta Isya, dan jika beliau berangkat sesudah waktu Magrib, beliau mengerjakan salat Isya beserta Magrib. (H.R.Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmizi)
2. Dalam keadaan tertentu, seperti Turun Hujan Lebat
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Sesungguhnya Nabi saw. menjamak salat Magrib dengan Isya di malam hujan turun. (H.R. al-Asram dari Salamah bin Abdulrahman)
3. Keadaan Sakit
Imam Ahmad, Qadli Husain, Al-Khatthabi, dan Al-Mutawalli dari golongan Syafi’i sependapat dalam hal ini, baik menjamak secara takdim maupun takhir. Alasan yang dikemukakan adalah karena dalam kondisi sakit lebih sulit untuk untuk melaksanakan salat secara tertib lima waktu jika dibandingkan dengan alasan hujan. Berkata An-Nawawi, ”Dari segi alasan, pendapat ini adalah kuat,”
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Rasulullah saw. pernah menjamak salat Zuhur dengan Asar serta Magrib dengan Isya di Madinah, bukan karena hujan atau ketakutan. Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas, ”Kenapa Nabi saw. berbuat begitu?” Ujarnya, ”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyusahkan umatnya.” (H.R. Muslim)
4. Ada keperluan penting lainnya, seperti dalam keadaan takut (khauf) Allah swt. Berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 101 di atas
Sesungguhnya agama Islam memberi keringanan dalam pelaksanaan salat fardu sebagaimana diatas, hendaknya kita tidak mempermudah untuk menjamak atau mengqasar salat jika tidak ada alasan yang dapat dibenarkan oleh syarak. Mengenai syarat sah mengqasar salat, para ulama berbeda paham (terjadi khilafiah). Tidak kurang dari dua puluh pendapat dalam hal ini. Sementara itu, ada ulama yang menetapkan bahwa diperbolehkannya mengqasar salat ialah mengembalikan masalah ini pada Surah An-Nisa’ ayat 101. Berdasarkan ayat tersebut tidak dijelaskan jarak bepergian. Oleh sebab itu, kiranya kita dapat mengambil kebijakan sendiri dalam hal ini.
Syarat sah mengqasar salat sebagai berikut.
1. Salat Qasar boleh dilakukan bagi mereka yang dalam perjalanan.
Dalam sebuah hadis, diriwayatkan yang artinya:
Dari Syu’bah berkata, Saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqasar salat. ”Apabila Rasulullah saw. berjalan (bepergian) sejauh tiga farsakh, beliau salat dua rakaat.” .(H.R. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)
Pengertian tiga farsakh sama dengan 25,92 km. Sebagaimana ulama mensyaratkan bahwa perjalanan tersebut sekurang-kurangnya tiga mil (90,64 km)
Jarak perlajanan adalah jarak yang memperbolehkan untuk mengqasar salat.
2. Perjalanan yang dilakukan diniatkan untuk kebaikan, bukan untuk maksiat.
Niat mengqasar ketika melakukan takbiratulihram.
Tata Cara Salat Jamak
Salat Jamak dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu salat Jmak takdim dan salat Jamak Takhir.
1) Cara melaksanakan salat jamak takdim
a. Salat Zuhur dan salat Asar dikerjakan pada waktu Salat Zuhur.
b. Salat Magrib dan salat Isya dikerjakan pada waktu Salat Magrib.
2) Cara Melaksanakan Salat Jamak Takhir
a. Salat Zuhur dan salat Asar dikerjakan pada waktu Salat Asar
b. Salat Magrib dan salat Isya dikerjakan pada waktu Salat Isya.
Menurut bahasa, jamak artinya mengumpulkan, menurut istilah, salat jamak adalah mengumpulkan dua salat fardu dalam satu waktu yang dilakukan secara berurutan. Misalnya, salat Zuhur dikerjakan dengan salat Asar.
Jadi, salat Jamak merupakan keinginan yang diperbolehkan dikarenakan sebab-sebab tertentu. Berbeda dengan menjamak salat Zuhur dan Asar di Arafah dan menjamak salat Magrib dengan Isya ketika bermalam di Muzdalifah. Menjamak di kedua tempat tersebut adalah ketetapan baku yang hukumnya wajib karena tidak memiliki pilihan lain
Hal itu didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. mengerjakan salat Zuhur dan salat Asar di Arafah dengan satu azan dan dua ikamah.
Hukum melaksanakan salat Jamak adalah mubah (boleh) bagi orang yang dalam perjalanan dan syarat-syaratnya mencukupi.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Dari Muaz bahwasanya Nabi Muhammad saw. dalam Perang Tabuk apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan salat Zuhur sehingga beliau kumpulkan pada salat Asar (beliau salat Zuhur dan Asar pada waktu Asar). Jika beliau berangkat sesudah tergelincir matahari beliau melaksanakan salat Zuhur dan salat Asar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Jika beliau berangkat sebelum Magrib, beliau mengakhirkan salat Maghrib sehingga beliau mengerjakan salat Magrib beserta Isya, dan jika beliau berangkat sesudah waktu Magrib, beliau mengerjakan salat Isya beserta Magrib. (H.R.Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmizi)
Salat Qasar
Qasar artinya meringkas atau memendekkan. Salat Qasar ialah melaksanakan salat fardu dengan cara meringkas jumlah rakaatnya dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Salat yang dapat diqasar adalah salat Zuhur, Asar, dan Isya. Sementara itu, salat Magrib tetap tiga rakaat dan salat Subuh juga dua rakaat. Disyariatkannya mengasar salat termasuk rukhsah (keringanan). Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt. berikut.
Artinya:
101. Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qa¡ar salat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(Q.S. an-Nisa’101)
Pengertian Salat Jamak Qasar
Salat Jamak Qasar adalah dua salat fardu yang dikerjakan secara berurutan dalam satu waktu dan jumlah rakaatnya diringkas. Apabila dikerjakan pada waktu salat yang awal, disebut salat Jamak Qasar Takdim. Apabila dikerjakan pada waktu salat yang akhir, disebut salat Jamak Qasar Takhir.
Macam-Macam Salat Jamak
Salat Jamak dibagi menjadi dua macam, yaitu salat Jamak Takdim dan salat Jamak Takhir. Salat Jamak Takdim adalah mengerjakan salat dengan menjamaknya pada waktu salat yang awal. Contoh, salat Zuhur dan dan salat Asar dijamak pada awal waktu salat Zuhur atau mengerjakan salat Magrib dan salat Isya pada awal waktu salat Isya.
Salat Jamak Takhir adalah mengerjakan salat dengan menjamaknya pada waktu salat yang akhir. Contoh, salat Zuhur dan salat Asar dikerjakan pada waktu salat Asar atau salat Magrib dan salat Isya dikerjakan pada waktu salat Isya.
Salat yang boleh dijamak dan diqasar
Menurut sunah Rasulullah saw., salat yang boleh dijamak ialah salat Zuhur dengan salat Asar dan salat Magrib dengan salat Isya. Salat Subuh tidak boleh dijamak sehingga salat Subuh harus dilaksanakan secara terpisah dari salat yang lain. Jadi, salat Subuh tetap dilaksanakan pada waktunya. Adapun salat yang boleh diqasar adalah salat yang jumlah rakaatnya empat. Dengan demikian, salat Magrib dan subuh tidak boleh diqasar. Salat Magrib dan subuh tetap dilakukan tiga rakaat dan dua rakaat.
Syarat Salat Jamak dan Qasar
Setiap orang Islam diperbolehkan menjamak salat apabila terpenuhi syarat sebagai berikut.
1. Sebagai musafir atau sedang bepergian
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Dari Muaz bahwasanya Nabi Muhammad saw. dalam Perang Tabuk apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan salat Zuhur sehingga beliau kumpulkan pada salat Asar (beliau salat Zuhur dan Asar pada waktu Asar). Jika beliau berangkat sesudah tergelincir matahari beliau melaksanakan salat Zuhur dan salat Asar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Jika beliau berangkat sebelum Magrib, beliau mengakhirkan salat Maghrib sehingga beliau mengerjakan salat Magrib beserta Isya, dan jika beliau berangkat sesudah waktu Magrib, beliau mengerjakan salat Isya beserta Magrib. (H.R.Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmizi)
2. Dalam keadaan tertentu, seperti Turun Hujan Lebat
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Sesungguhnya Nabi saw. menjamak salat Magrib dengan Isya di malam hujan turun. (H.R. al-Asram dari Salamah bin Abdulrahman)
3. Keadaan Sakit
Imam Ahmad, Qadli Husain, Al-Khatthabi, dan Al-Mutawalli dari golongan Syafi’i sependapat dalam hal ini, baik menjamak secara takdim maupun takhir. Alasan yang dikemukakan adalah karena dalam kondisi sakit lebih sulit untuk untuk melaksanakan salat secara tertib lima waktu jika dibandingkan dengan alasan hujan. Berkata An-Nawawi, ”Dari segi alasan, pendapat ini adalah kuat,”
Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
Rasulullah saw. pernah menjamak salat Zuhur dengan Asar serta Magrib dengan Isya di Madinah, bukan karena hujan atau ketakutan. Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas, ”Kenapa Nabi saw. berbuat begitu?” Ujarnya, ”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyusahkan umatnya.” (H.R. Muslim)
4. Ada keperluan penting lainnya, seperti dalam keadaan takut (khauf) Allah swt. Berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 101 di atas
Sesungguhnya agama Islam memberi keringanan dalam pelaksanaan salat fardu sebagaimana diatas, hendaknya kita tidak mempermudah untuk menjamak atau mengqasar salat jika tidak ada alasan yang dapat dibenarkan oleh syarak. Mengenai syarat sah mengqasar salat, para ulama berbeda paham (terjadi khilafiah). Tidak kurang dari dua puluh pendapat dalam hal ini. Sementara itu, ada ulama yang menetapkan bahwa diperbolehkannya mengqasar salat ialah mengembalikan masalah ini pada Surah An-Nisa’ ayat 101. Berdasarkan ayat tersebut tidak dijelaskan jarak bepergian. Oleh sebab itu, kiranya kita dapat mengambil kebijakan sendiri dalam hal ini.
Syarat sah mengqasar salat sebagai berikut.
1. Salat Qasar boleh dilakukan bagi mereka yang dalam perjalanan.
Dalam sebuah hadis, diriwayatkan yang artinya:
Dari Syu’bah berkata, Saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqasar salat. ”Apabila Rasulullah saw. berjalan (bepergian) sejauh tiga farsakh, beliau salat dua rakaat.” .(H.R. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)
Pengertian tiga farsakh sama dengan 25,92 km. Sebagaimana ulama mensyaratkan bahwa perjalanan tersebut sekurang-kurangnya tiga mil (90,64 km)
Jarak perlajanan adalah jarak yang memperbolehkan untuk mengqasar salat.
2. Perjalanan yang dilakukan diniatkan untuk kebaikan, bukan untuk maksiat.
Niat mengqasar ketika melakukan takbiratulihram.
Tata Cara Salat Jamak
Salat Jamak dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu salat Jmak takdim dan salat Jamak Takhir.
1) Cara melaksanakan salat jamak takdim
a. Salat Zuhur dan salat Asar dikerjakan pada waktu Salat Zuhur.
b. Salat Magrib dan salat Isya dikerjakan pada waktu Salat Magrib.
2) Cara Melaksanakan Salat Jamak Takhir
a. Salat Zuhur dan salat Asar dikerjakan pada waktu Salat Asar
b. Salat Magrib dan salat Isya dikerjakan pada waktu Salat Isya.
Senin, 10 Juni 2013
Kerajaan Islam di Indonesia
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa timbulnya kerajaan-kerajaan Islam didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, Persia, dan Tiongkok. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatra, Jawa, Maluku, dan Sulawesi. Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Berikut beberapa kerajaan besar Islam di Indonesia.
1. Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, didirikan oleh Malik As-Saleh. Kerajaan ini terletak di Lhok Seumawe Aceh Utara. Wilayahnya sangat strategis karena berada di daerah Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan dan pelayaran internasional. Pada masa pemerintahan Malik As-Saleh, Kerajaan Samudra Pasai berkembang menjadi bandar-bandar pelabuhan besar yang banyak didatangi oleh pedagang dari berbagai daerah, seperti India, Gujarat, Arab, dan Cina. Dalam perkembangannya setelah Malik As-Saleh wafat pada 1927, kegiatan pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, yaitu Sultan Muhamad Malik Al-Taher (1927 – 1326), Sultan Ahmad, dan Sultan Zainul Abidin.
2. Kerajaan Malaka
Pendiri Kerajaan Malaka adalah Paramisora atau Iskandar Syah. Kerajaan ini letaknya berhadapan dengan Selat Malaka sehingga sangat strategis sebagai jalur perdagangan dan pelayaran. Karena letaknya tersebut, kerajaan ini sering kali menjadi tempat persinggahan para pedagang Islam yang berasal dari berbagai negara. Selain Iskandar Syah, terdapat beberapa raja yang sempat memimpin Kerajaan Malaka, di antaranya sebagai berikut.
a. Muhammad Iskandar Syah yang berkuasa pada 1414-1424.
b. Sultan Mudzafat Syah dan Sultan Mansur Syah yang berkuasa pada 1458-1477.
c. Sultan Alaudin Syah yang berkuasa pada 1477-1488.
d. Sultan Mahmud Syah yang berkuasa pada 1488-1511.
Kerajaan Malaka banyak dikunjungi oleh para pedagang dari Gujarat, Cina, Arab, Persia, dan negara lainnya sehingga kerajaan ini memanfaatkannya untuk meningkatkan kegiatan ekonominya. Karena kemajuannya dalam perdagangan, Kerajaan Malaka mampu mengalahkan kemajuan Kerajaan Samudra Pasai.
3. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Raden Patah (bergelar Alam Akbar Al Fattah) adalah putra Raja Majapahit Brawijaya, dengan ibu keturunan Champa (daerah yang sekarang perbatasan dengan Kamboja dan Vietnam). Pada awal abad ke-14, Kaisar Yan Lu dari Dinasti Ming mengirimkan seorang putri kepada Brawijaya di Kerajaan Majapahit sebagai tanda persahabatan kedua negara. Putri yang cantik jelita dan pintar ini segera mendapatkan tempat istimewa di hati raja. Raja Brawijaya sangat tunduk pada semua kemauan sang putri jelita, yang nantinya membawa banyak pertentangan dalam istana Majapahit.
Raja Brawijaya sudah memiliki permasuri yang berasal dari Champa, masih kerabat Raja Champa dan memiliki julukan Ratu Ayu Kencono Wungu. Makamnya saat ini ada di Trowulan, Mojokerto. Sang permaisuri memiliki ketidakcocokan dengan putri pemberian Kaisar Yan Lu. Akhirnya, Raja Brawijaya dengan berat hati harus menyingkirkan putri cantik ini dari Majapahit. Dalam keadaan mengandung, putri cantik itu dihibahkan oleh Raja Brawijaya kepada Adipati Palembang, Arya Sedamar. Di sanalah Jim-Bun atau Raden Patah dilahirkan.
Dari Arya Sedamar, putri ini memiliki seorang anak laki laki. Dengan kata lain Raden Patah memiliki adik laki laki seibu, tetapi berbeda ayah. Setelah memasuki usia belasan tahun, Raden Patah, bersama adiknya, dan diantar ibunya berlayar ke Pulau Jawa untuk belajar di Ampel Denta. Raden Patah mendarat di pelabuhan Tuban sekitar tahun 1419 Masehi. Jim-Bun atau Raden Patah sempat tinggal beberapa lama di Ampel Denta di rumah pamannya, kakak-misan ibunya.
Sunan Ampel juga bersama para saudagar besar Muslim ketika itu. Di sana pula ia mendapat dukungan dari rekan-rekan utusan Kaisar Cina, Panglima Cheng Ho atau juga dikenal sebagai Dampu-awang atau Sam Poo Tai-jin. Panglima berasal dari Xin-Kiang, pengenal Islam.
Saat itu pengaruh Majapahit telah memudar, dan wilayahnya hanya sebagian kecil Jawa Timur. Raden Patah meninggal tahun 1518, dan digantikan oleh menantunya, Pati Unus. Pada tahun 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Pati Unus gugur dalam pertempuran ini, dan digantikan oleh adik iparnya, Sultan Trenggono.
Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah - wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai ahli waris takhta Majapahit. Pada masa itu, arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara, Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syech Siti Jenar.
Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan Nusantara. Pati Unus adalah seorang raja yang memimpikan kembalinya kejayaan Majapahit melalui Demak. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan Nusantara tinggal menunggu waktu.
Sultan Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur Pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatra), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggono. Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto.
Kepemimipinan Sunan Prawoto tidak mulus. Sunan Prawoto ditentang oleh adik Sultan Trenggono, Pangeran Seda Lepen. Pangeran Seda Lepen terbunuh, dan akhirnya pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh suruhan Arya Penangsang, putra Pangeran Seda Lepen.
Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa takhta Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Adipati Jepara, ini menyebabkan banyak adipati memusuhi Arya Penangsang. Arya Penangsang akhirnya dihabisi oleh pasukan Joko Tingkir, menantu Sunan Prawoto. Joko tingkir memindahkan istana Demak ke Pajang, dan di sana ia mendirikan Kesultanan Pajang.
4. Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram Islam berdiri berkat perjuangan dari Ki Ageng Pemanahan yang meninggal pada 1575. Setelah meninggal, digantikan oleh anaknya, yaitu Sutawijaya yang lebih dikenal dengan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah. Pada masanya, Kerajaan Mataram terus berkembang dan menjadi kerajaan terbesar di Jawa. Wilayahnya berkembang seputar Jawa Tengah, Jawa Timur, Cirebon, dan sebagian Priangan.
Setelah meninggal pada tahun 1601, Sutawijaya digantikan oleh Mas Jolang atau Panembahan Seda Ing Krapyak (1601-1613). Selanjutnya, diteruskan oleh anak Mas Jolang yaitu Raden Mas Martapura karena sering sakit-sakitan, Raden Mas Martapura digantikan oleh anak Mas Jolang yang lain, yaitu Raden Mas Rangsang yang dikenal dengan nama Sultan Agung (1613-1645). Pada masa Sultan Agung inilah Mataram mengalami puncak kejayaan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Mataram terpecah belah sehingga berubah menjadi kerajaan kecil. Perpecahan disebabkan adanya gejolak politik di daerah-daerah kekuasaan Mataram dan peran serta VOC dan penguasa Belanda yang menginginkan menguasai tanah Jawa.
Dalam Perjanjian Giyanti (1755) disebutkan bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua wilayah kerajaan sebagai berikut.
a. Daerah Kesultanan Yogyakarta yang disebut Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Mangkubumi sebagai rajanya dan bergelar Hamengkubuwono.
b. Daerah Kasuhunan Surakarta yang diperintah oleh Pakubuwono.
Akibat Perjanjian Salatiga peranan Belanda dalam pemerintahan Mataram semakin jauh sehingga pada 1913 Mataram akhirnya terpecah menjadi empat keluarga raja yang masing-masing memiliki kekuasaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasuhunan Surakarta, Pakualaman dan Mangkunegaran.
5. Kerajaan Cirebon
Kerajaan ini lahir pada abad ke-16. Pada abad tersebut, daerah Cirebon berkembang menjadi pelabuhan yang ramai dan menjadi salah satu pusat perdagangan di pantai utara Jawa Barat. Majunya kegiatan perdagangan juga mendorong proses islamisasi semakin berkembang sehingga Sunan Gunung Jati membentuk kerajaan Islam Cirebon. Dengan terbentuknya kerajaan Islam Cirebon, maka Cirebon menjadi pusat perdagangan dan pusat penyebaran Islam di Jawa Barat.
6. Kerajaan Banten
Pendiri Kerajaan Banten adalah Sunan Gunung Jati dan raja pertamanya adalah Hasanuddin yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati. Semula wilayah ini termasuk bagian dari Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Banten memiliki hubungan dengan kerajaan Demak. Hasanuddin menikah dengan putri Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak, yaitu Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara.
Dalam perkembangan selanjutnya, Maulana Yusuf pada 1570 menggantikan ayahnya untuk menjadi raja Kerajaan Banten yang kedua sampai dengan tahun 1580. Setelah itu, dilanjutkan oleh anak Maulana Yusuf (1580-1605), kemudian Abdul Mufakhir, Abu Mali Ahmad Rahmatullah (1640-1651) dan Abu Fatah Abdulfatah yang lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1582). Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa inilah Kerajaan Banten mengalami puncak kejayaan.
Langganan:
Postingan (Atom)


